Tampilkan postingan dengan label makanan bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan bayi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2009

Alergi Susu Sapi? Beri Susu Hidrolisis




SUSU merupakan makanan utama bayi. Yang terbaik tentu saja air susu ibu (ASI). Sayang, tidak semua bayi bisa mendapat ASI. Sebagai gantinya, susu formula yang diberikan kepada si bayi. Namun, tidak semua bayi bisa menerima susu tersebut karena timbul reaksi alergi.

Sita merasa bingung. ASI-nya tak mau keluar. Padahal, anaknya, Dea, belum lagi berusia 6 bulan. Ia kemudian menggantinya dengan susu formula. Namun, Dea malah mengalami diare dan warna kemerahan di kulitnya. Setelah berkonsultasi ke dokter, baru ketahuan kalau Dea alergi susu sapi.

Sekitar 2-3 persen bayi berusia 0-3 tahun mengalami alergi susu sapi (ASS). Sekitar 28 persen gejala alergi timbul setelah 3 hari minum susu sapi, 41 persen setelah 7 hari, dan 68 persen setelah 1 bulan. ASS ini, dikatakan Dr Zakiudin Munasir, Sp A-KAI, konsulen alergi imunologi anak dari FKUI, hanya terjadi pada anak yang mempunyai bakat atopik atau alergi. Hal ini terjadi karena adanya antibodi di tubuh sang anak.

Antibodi ini, yaitu imunoglobulin E (IgE), dibentuk pada orang yang memiliki bakat alergi. IgE akan bereaksi terhadap protein susu sapi. Protein ini dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. Dengan kata lain, tubuh sang anak hipersensitif terhadap protein susu sapi.

Setidaknya ada 20 protein dalam susu sapi yang bisa merangsang terjadinya alergi. “Tetapi, yang sering itu adalah beta laktoglobulin,” ujar Kepala Divisi Alergi Imunologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini.


Belum sempurna

Kasus ASS paling sering terjadi pada usia bayi hingga 3 tahun. Ini karena, menurut konsulen alergi imunologi lulusan Academisch Ziekenhuis Groningen, Belanda itu, sistem pencernaan pada bayi, terutama yang baru lahir usia 2-3 tahun, masih belum sempurna. Hal tersebut membuat protein yang dikenali sebagai alergi akan diserap secara utuh dan tidak dipecah oleh saluran cerna.

Sejalan dengan pertambahan usia, pada saat memasuki usia 2-3 tahun, saluran cernanya sudah mulai matang. Di waktu yang bersamaan, enzim pencernaan pun telah terbentuk dengan baik. Imunoglobulin A sekretorik yang berguna menangkal protein asing juga sudah terbentuk sempurna. Pada 85 persen bayi yang mengalami ASS akan menghilang (toleran) sebelum usia 3 tahun.

“Bayi yang sudah toleran ini terjadi karena protein sudah dipecah-pecah. Sifat alergi dari protein yang ada pada susu sapi pun sudah hilang,” ujar Dr Zaki.

ASS disebut Dr Zaki sebagai salah satu jenis alergi yang bisa hilang. Gejala awal alergi pada bayi biasanya adalah gejala kulit seperti eksim maupun timbul warna kemerahan. Timbulnya ruam kemerahan pada kulit bayi juga bisa terjadi pada bayi yang mendapat ASI.

Ruam tersebut kerap dikira berasal dari ASI. Padahal, tidak demikian. Besar kemungkinan karena sang ibu mengonsumsi susu sapi maupun produk olahannya. Alergennya masuk ke ASI dan kemudian diisap oleh bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Untuk itu, sang ibu harus menghindari susu sapi serta produk olahannya.


Tindakan antisipasi

Terjadinya reaksi alergi bisa diketahui dari gejala yang ditimbulkan. Untuk meyakini alergi yang timbul, bisa dilakukan beberapa tes pada bayi. Tes yang umumnya digunakan adalah tes pada kulit (lewat uji kulit gores, uji tusuk, dan uji kulit intraderma) ataupun tes darah.

Meski demikian, menurut Dr Zaki, uji kulit pada anak berusia kurang dari satu tahun kerap memberi hasil negatif yang palsu. Pengujian juga bisa dilakukan dengan menghindari susu sapi selama 2-3 minggu untuk kemudian memprovokasi makanan terbuka. Istilahnya uji eliminasi dan provokasi.

Dalam tes tersebut, setelah gejala berkurang, anak kemudian diberi susu sapi secara bertahap hingga tercapai jumlah susu yang diminum. Bila setelah 2 jam tidak timbul gejala, berarti hasil uji provokasi negatif. Tes ini sering dilakukan pada anak berusia di bawah 3 tahun.

Sebenarnya orangtua bisa mengantisipasi timbulnya alergi pada anak. Terutama bila ada riwayat alergi atau asma pada salah satu dari orangtua atau malah keduanya. Sebagai gambaran, jika orangtua alergi, kemungkinan anaknya menderita alergi adalah sekitar 80 persen. Bila hanya ibu yang mengalami alergi, kemungkinan anak mewarisi alergi sekitar 50 persen.

Bila demikian, pemberian susu sapi ada baiknya dihindari. Sesungguhnya hal tersebut tidak terlalu bermasalah pada ibu yang memberi ASI. Sang ibu saja yang menghindari susu sapi dan produk olahannya. Namun, masalah akan terjadi bila ibu tidak bisa memberi bayi.


Beri ASI

Bayi lebih baik diberi susu yang telah mengalami hidrolisis atau hidrolisat. Ada yang dihidrolisis sempurna dan ada yang hanya dihidrolisis parsial atau sebagian. Pada susu yang dihidrolisis sempurna, seluruh protein susu sapi sudah dipecah-pecah dengan sempurna. Susu jenis ini dikenal dengan sebutan susu nonalergenik. Susu ini digunakan pada bayi yang sudah timbul gejala alergi seperti eksim maupun asma.

Pada susu yang dihidrolisis parsial, protein susu sapi hanya dipecah sebagian saja. Maksudnya, supaya bayi nantinya juga mempunyai kekebalan terhadap susu sapi.

“Susu yang disebut sebagai susu hipoalergenik ini biasanya digunakan pada anak yang belum mempunyai gejala alergi, tetapi sudah tahu akan timbul alergi karena bapak-ibunya punya riwayat alergi,” tambah Dr Zaki.

Selain susu yang telah dihidrolisis, pemberian susu kedelai juga bisa digunakan untuk bayi yang mengalami ASS. Masalahnya, banyak bayi tak menyukai susu kedelai karena rasanya tidak enak. Sama seperti susu hidrolisis yang rasanya juga tidak begitu enak. Lagi pula, “Sekitar 30-40 persen bayi yang alergi susu sapi juga alergi terhadap susu kedelai,” ungkap Dr Zaki. Sayangnya, susu pengganti tersebut harganya lebih mahal!


Jelas beda!

Bedakah alergi susu sapi dengan intoleransi laktosa? Pertanyaan tersebut kerap diajukan oleh orangtua. “Jelas beda,” jawab Dr Zaki. Alergi susu sapi (ASS) umumnya karena tidak tahan dengan protein susu sapi, sedangkan intoleransi laktosa (IL) karena tidak tahan dengan laktosa.

Terjadinya IL karena kurangnya enzim laktase pada usus yang berfungsi untuk mencerna laktosa. Oleh karena itu, gejala yang terjadi biasanya berhubungan dengan saluran cerna dengan timbulnya diare.

IL bisa terjadi, baik pada orang dewasa, maupun anak-anak. Orang dewasa atau bahkan orangtua yang sudah berusia pertengahan umumnya mengalami IL. “Karena orangtua zaman dulu tidak terbiasa minum susu. Jadi, tidak terbentuk enzim laktasenya,” kata Dr Zaki.

Sebaliknya, anak sekarang sudah minum susu sejak kecil sehingga mereka lebih terbiasa. Dengan minum susu, tubuh akan merangsang enzim laktase. Hanya saja, bila rangsangan tersebut malah menimbulkan diare terus-menerus, pemberian susu harus dihentikan sesaat. Dikhawatirkan, kerusakan usus yang terjadi akan menetap dan kematangan saluran cerna tidak akan terjadi. Akibatnya, kondisi tersebut akan terbawa hingga dewasa.

IL juga bisa terjadi pada anak yang sedang mengalami diare. Menurut Dr Zaki, kondisi itu disebabkan usus pada anak yang diare rusak sehingga enzim laktase berkurang. Dengan kata lain, IL bisa terjadi pada anak yang sedang diare atau sebaliknya.

Jika hal ini yang terjadi, anak bisa dibantu dengan tambahan enzim laktosa. Bisa juga diberikan susu rendah laktosa. “Bila sudah sembuh, anak baru bisa diberi susu kembali,” katanya./*



kompas.com
Sabtu, 20 Desember 2008 | 09:02 WIB

ASI, Tak Hanya AA dan DHA


BANDUNG, KOMPAS. com - Bayi yang mengkonsumsi air susu ibu (ASI) mendapat kandungan "Gangliosida (GA)" lebih banyak dibandingkan bayi yang mengkonsumsi susu biasa.

Hal tersebut disampaikan dr Yohanes Tri Nugroho Msi Med Spa dalam Road Show Seminar Building Your Child’s Brain Connection di Hotel Grand Aquila, Bandung.

Dikatakan, nutrisi terbaik untuk bayi adalah ASI karena dalam ASI terdapat banyak zat gizi yang diperlukan untuk perkembangan otak yang sehat, salah satunya adalah GA.

"GA dalam ASI berperan untuk pembentukan memori dan fungsi umum otak besar serta sebagai alat konektivitas sel otak bayi," ucapnya.

Meskipun begitu, kandungan GA dalam susu biasa sama sekali tidak berbahaya. Dikatakannya hingga saat ini belum ada riset yang menunjukkan efek negatif dari GA yang terkandung dalam susu biasa.

Sementara Ratna Siswati, Asisten Nutritionist Anmum, mengatakan GA sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Dijelaskannya, bahwa ketika lahir, bayi memiliki 100 miliar sel otak yang belum terhubung dan GA diperlukan untuk menghubungkan sel-sel otak tersebut.

Jadi, tak cukup hanya dengan AA dan DHA saja. GA juga diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan anak, ucapnya,

Saat ini ibu-ibu muda Indonesia sangat tertarik pada nutrisi untuk perkembangan otak anak. Kini, ada penemuan baru berupa nutrisi GA yang ternyata fungsinya tidak kalah penting dari AA dan DHA.,


kompas.com
Rabu, 11 Maret 2009 | 20:32 WIB

Senin, 27 Oktober 2008

Serba serbi bayam




Anak Anda sudah mulai diperkenalkan dengan sayuran?
Yiha.... bagus dooong. Tapi, ada tapinya neeh. Kalau untuk makanan yang mengadung bayam (misalnya nasi tim bayam) cukup buat satu porsi aja ya. Intinya, jangan pernah memanasi makanan yang mengandung bayam. Loh, kenapa? Ada beberapa alasan seeh. Setelah tengok sana-sini, ketemu beberapa. Ini dia:

a. Bayam mengandung zat besi yang berupa Fe2+ (ferro). Kalau dia terlalu lama kontak dengan O2 (oksigen dari udara), Fe2+ akan teroksidasi menjadi Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang berguna bagi kita adalah ferro. Sedangkan ferri bersifat toxid pada bayam. Jadi, kalau bayam dipanasi, akan berlaku oksidasi tersebut. --> Aku duluw bingung kenapa ibuku selalu melarang memanasi sayur bening. Blio sih gak bisa jelasin secara ilmiah gituw, tp selalu bilang: sayur bayam, klow belon habis, jangan dipanasi lagi.

b. Jangan pernah mengonsumsi bayam lebih dari 5 jam (maksa banget nih!!!). Soalnya, selain mengandung zat yg disebutin tadi itu, bayam juga mengandung zat Nitrat (NO3). Kalau teroksidasi oleh udara, maka akan menjadi NO2 (nitrit). Nitrit adalah senyawa yang tidak berwarna, tidak berbau, dan bersifat racun bagi tubuh manusia.
Menurut John S Wishnok, bayam segar yang baru dicabut dari persemaiannya telah mengandung senyawa nitrit kira-kira sebanyak 5 mg/kg. Bila bayam disimpan di lemari es selama 2 minggu, kadar nitrit akan meningkat sampai 300 mg/kg. Dengan kata lain, dalam 1 hari penyimpanan, senyawa nitrit akan meningkat 21 mg/kg (7%).

Efek toksik (meracuni tubuh) yang ditimbulkan oleh Nitrit bermula dari reaksi oksidasi Nitrit dengan zat besi dalam sel darah merah, tepatnya di dalam Hemoglobin (Hb). Telah kita ketahui bahwa salah satu tugas hemoglobin adalah mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh organ tubuh. Ikatan nitrit dengan hemoglobin, disebut Methemoglobin, mengakibatkan hemoglobin tidak mampu mengikat oksigen. Jika jumlah methemoglobin mencapai lebih dari 15% dari total hemoglobin, maka akan terjadi keadaan yang disebut Sianosis, yaitu suatu keadaan dimana seluruh jaringan tubuh manusia kekurangan oksigen. Jika hal ini terjadi pada bayi dikenal dengan nama “Blue Baby”.
Efek toksik lainnya adalah kemampuan nitrit bereaksi dengan Amino sekunder dapat membentuk senyawa yang dapat menyebabkan kanker.

c. O,ya jangan masak bayam pake panci alumunium yach... soalnya bisa bereaksi dengan zat besi yang ada di bayam, dan... jadi racun.

Tips mengkonsumsi bayam
* Pilih bayam yang baru dipetik dan masih segar
* Hendaknya langsung diolah setelah mendapatkan bayam segar
* Jangan terlalu lama disimpan dalam lemari es

Jadi takut mengonsumsi bayam?? JANGAN... soalnya, kandungan nutrisinya sangat TOP BGT. Bahkan, bayam disebut sebagai King of Vegetables. Nah lo....
Moga membantu yaaaa.....

sumber :resep-balita@blogspot.com

Jadwal Pemberian Makanan Bayi

Jadwal Pemberian Makanan Bayi Berdasarkan Rekomendasi IDAI


* 0-4 bulan

ASI On demand


* 4-6 bulan (bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Bubur Susu
Pkl. 10.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
ASI
Pkl. 14.00 (sebelum tidur siang)
ASI
Pkl. 16.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Bubur susu
Pkl. 21.00
ASI


* 6-9 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 10.00
Buah segar/Biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 14.00 (sebelum tidur siang)
ASI/PASI
Pkl. 16.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 21.00
ASI/PASI


* 9-12 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Nasi Tim→ makanan keluarga
Pkl. 10.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
Nasi tim→ makanan keluarga
Pkl. 14.00 (sebelum tidur siang)
ASI/PASI
Pkl. 16.00
Buah segar/Biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Nasi tim→ makanan keluarga
Pkl. 21.00
ASI/PASI


> 12 bulan
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Makanan Keluarga
Pkl. 10.00
Snack
Pkl. 12.00 (makan siang)
Makanan Keluarga
Pkl. 14.00 (sebelum tidur siang)
-
Pkl. 16.00
Snack
Pkl. 18.00 (makan malam)
Makanan Keluarga
Pkl. 21.00
ASI/PASI


@Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia

Resep Makanan Bayi




* Bila ASI berkurang dapat diberikan PASI.
** Makanan keluarga yang lembek, mudah dicerna dan tidak pedas.
*** Makanan kecil berupa biskuit, bubur kacang hijau dan lain-lain.

Cara Pembuatan makanan bayi
Air jeruk
B a h a n : 1 buah jeruk garut atau jeruk siam, + (100 gr).
Cara membuat : Jeruk dicuci bersih dan dipotong melintang lalu diperas dan disaring.
Cara pemberian : Untuk pertama kali air jeruk tersebut diencerkan dengan air putih masak dengan perbandingan 1 : 1 dan diberikan sebanyak 1 sdt. Pemberian ini ditambah dari hari ke hari sampai dapat menghabiskan 1 buah jeruk, maka selanjutnya tidak perlu diencerkan lagi. Bila rasanya asam, dapat ditambah gula dalam bentuk sirup secukupnya.

Air tomat
B a h a n : 1 buah tomat (+ 60 gr)
Cara membuat : Tomat dicuci bersih masukkan ke dalam panci yang berisi air panas lalu panci ditutup dan biarkan 3 - 5 menit angkat tomat dari air panas, kupas kulit arinya lalu disaring. Air tomat yang didapat + 6 sdm (50 cc)
Cara pemberian : Untuk pertama kali air tomat diencerkan dengan air putih masak dengan perbandingan 1 : 1 dan diberikan sebanyak 1 sdt. Pemberian ini dari hari ke hari ditambah sampai dapat menghabiskan 1 buah tomat, maka selanjutnya tidak usah diencerkan lagi. Bila rasanya asam, dapat ditambah gula dalam bentuk sirup secukupnya.

Pepaya saring
B a h a n : 1 potong pepaya masak dengan berat + 100 gr
Cara membuat : Pepaya dicuci bersih dan dikupas, buang biji dan bagian yang keras pepaya dipotong-potong atau dihaluskan lalu disaring. Pepaya halus yang didapat + 9 sdm.
Cara pemberian : Untuk pertama kali diberikan 1 sdt, hari-hari selanjutnya ditambah sampai dapat menghabiskan 1 ptg pepaya.

Pisang ambon
B a h a n : 1 buah pisang ambon.
Cara membuat : Pisang dicuci bersih lalu dikupas.
Pisang dikerik halus dan dimasukkan ke dalam cangkir.
Pisang yang telah dikerik sebaiknya dicampur dengan air jeruk/air tomat.
Cara pemberian : Untuk pertama kali diberikan sebanyak 1 sdt. hari-hari selanjutnya ditambah sehingga dapat menghabiskan 1 atau 2 pisang.

Bubur susu
B a h a n : 150 cc susu (3/4 gls)
50 cc air putih (1/4 gls)
10 gr gula putih (1 sdm)
20 gr tepung beras (2 sdm)
garam sedikit, menurut selera.
Cara membuat : Susu didihkan.
Tepung beras diencerkan dengan air 50 cc dan dimasukkan ke dalam susu yang telah mendidih sampai masak, masukkan gula pasir ke dalam bubur tersebut dan ditambah garam kemudian angkat.

Tim saring
B a h a n : 20 gr beras (2 sdm)
10 gr kacang hijau (1 sdm)
25 gr hati ayam (1 ptg)
atau hati sapi, daging cincang atau daging ikan, atau 1 btr telor ayam
10 gr daun bayam (1 genggam)
20 gr tomat (1 bh sdg)
20 gr wortel (1 ptg sdg)
Cara membuat : Beras dan kacang hijau yang telah direndam semalam dicuci lalu ditim dengan 150 cc (3/4 gls) air. Bila sudah 1/2 masak, masukkan hati dan wortel ke dalamnya, biarkan sebentar sampai hati atau penggantinya agak lunak.
Kemudian masukkan bayam, tomat dan garam. Tunggu sampai masak, angkat lalu saring dengan saringan.

Arti Singkatan :
gr : gram
bh : buah
sdg : sedang
gls : gelas
ptg : potong
bj : biji
sdm : sendok makan
bsr : besar
sdt : sendok teh
kcl : kecil

sumber :dranak.blogspot.com

Sabtu, 25 Oktober 2008

Makanan bayi




Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah pemberian makanan yang tepat untuk usia tertentu. Akan sangat tidak mungkin memberikan makanan padat kepada bayi yang baru lahir.

Pemberian makanan pada bayi disesuaikan dengan perkembangan organ-organ pencernaannya dan semakin bayi bertambah usia, pemberian makanan harus ditingkatkan intensitas dan variasinya. Supply makanan sangat berpengaruh dalam perkembangan motorik, fisik dan otak bayi, disamping faktor x pada saat kehamilan, oleh karena itu asupan gizi bayi haruslah sangat diperhatikan.

Untuk bayi yang baru lahir, pemberian Asi sangatlah penting. Asi harus diberikan dari sejak bayi lahir hingga usia tertentu, paling tidak usia 6 bulan yang dinamakan Asi eksklusif. Asi juga dapat diberikan hingga sang bayi mencapai usia 2 tahun. Asi sangat baik bagi bayi karena mengandung zat-zat yang sangat penting yang dapat membentuk daya tahan tubuh.

Biasanya, banyak ibu baru yang membuang Asi pertama mereka, padahal justru Asi pertama yang berwarna beninglah yang paling penting untuk bayi karena mengandung zat anti bodi yang akan sangat berguna untuk pelindung tubuh si bayi dari penyakit. Setelah 6 bulan penggantian Asi dapat dibarengi dengan penggunaan susu bubuk.

Setelah umur 3 bulan, bayi dapat diperkenalkan dengan makanan yang halus. Yang paling baik adalah pemberian buah-buahan yang tidak banyak mengandung serat dan dihaluskan seperti pisang, alpukat dan pepaya.

Untuk pisang dan alpukat dapat dikerik dan disuapkan sedikit-sedikit kepada bayi, sedangkan pepaya dapat dihancurkan sampai halus. Pemberian buah sangat baik karena buah mengandung banyak nutrisi, gizi dan vitamin untuk bayi. Ibu juga dapat memberikan makanan instan yang banyak dijual bebas oleh para produsen makanan bayi, namun alangkah lebih baik jika memberikan sesuatu yang lebih alami untuk makanan pertama bayi.

Di saat bayi berumur 6 bulan, bayi dapat memakan makanan yang lebih padat. Pemberian makanan yang padat harus dilakukan perlahan-lahan supaya organ pencernaan bayi terbiasa terhadap perubahan makanannya. Ibu dapat memberikan bubur bayi atau nasi tim serta makanan kaleng lainnya supaya tidak terlalu repot.

Di usia 9 bulan, pencernaan bayi sudah mulai kuat dan bayi siap memakan makanan yang lebih kasar. Pemberian makanan yang lebih kasar dapat membantu kelancaran pencernaan bayi selain memberi gizi yang lebih banyak kepada bayi.

Di usia ini, bayi juga siap memakan sayuran yang lebih dulu direbus hingga lunak. Variasikan menu makanan bayi anda sehingga bayi tidak bosan dan tidak menolak jika disuapi. Anda juga dapat memperkenalkan aneka rasa kaldu baik ayam ataupun sapi untuk variasi makanan, tapi janganlah terlebih dahulu memberikannya karena si bayi belum siap untuk mencerna daging.

Usia 1 tahun adalah usia dimana bayi siap memakan makanan yang dikonsumsi orang dewasa. Nasi yang lembek dengan banyak kuah adalah pilihan yang tepat untuk menu makan bayi.

Di usia ini pula bayi dapat memakan daging namun harus dipastikan bahwa daging-dagingan tersebut harus benar-benar lunak. Memperbanyak variasi makanan berarti memperbanyak asupan gizi yang sangat bagus untuk pertumbuhan bayi. Coba juga untuk banyak memberikan makanan laut untuk pertumbuhan tulang-tulang bayi.

Diatas usia 1 tahun hingga bayi berumur 2 tahun, bayi siap memakan nasi padat dan berbagai makanan orang dewasa. Di usia ini pula anda dapat dengan leluasa memperkenalkan aneka makanan lezat kepada si buah hati.

Namun tetaplah memberikan makanan yang sehat dan bergizi, dan jangan memperbanyak junk food atau jajanan, karena selain tidak sehat, makanan-makanan tersebut juga dapat menyebabkan kegemukan, karang gigi, dan menyebabkan anak anda tak lagi mau menyantap makanan sehat.

Jangan lupakan pula pemberian vitamin dan zat-zat yang berguna lainnya untuk pertumbuhan anak yang sempurna. Pemberian zat penambah nafsu makan juga dianjurkan namun berikan jika anak anda benar-benar tak mau makan. Pemberian makanan juga dapat diimbangi dengan susu dan pastikan bahwa antara makanan dan susu yang dikonsumsi anak anda seimbang.

sumber : pakarbayi.com