Rabu, 29 Oktober 2008

pusss


Pagi shubuh ini aq telah membuat ayah bunda jantungan, mereka tak menemukan aq dikamar.

Jam menunjukan pukul 04.45 pagi. Bunda yang bangun duluan langsung kaget begitu melihat disisinya tidak ada lagi anak kesayangannya yang ganteng dan spontan langsung teriak sehingga ayah pun terbangun. "yaaahhh...althaf mana....??? teriak bunda kaget. Ayah pun langsung terlonjak bangun dan dengan mata yang masih belekan (heheehe sorry), mulai menyusuri setiap inchi sudut-sudut kamar, sampai memelototi langit-langit kamar, namun tubuh kecil yang baunya wangi (...wangi pesing pipis semalam kalle) tidak juga kelihatan. Sementara bunda memanggil-manggil (tapi tetap nyungsep di kasur) ayah segera bangun dan menuju ke ruang tamu karena melihat pintu kamar tidur terbuka lebar, sepertinya ayah lupa menutup pintu semalam. Dengan geleng-geleng kepala samar-samar ayah melihat sebuah bayangan tubuh mungil yang sedang tidur di ruang tamu, beralaskan tikar kasur yang empuk. Beliau pun segera menghidupkan lampu ruang tamu dan segera memeluk aq dengan sayang. Untung kamu tidak ke dapur atau ke kamar mandi, bisa bahaya...kata ayah sambil dibalas dengan senyum kecil ku yang manis karena tiba-tiba aq terbangun oleh dekapan hangat ayah.

Ayah lalu memberikan aq ke bunda dan langsung mendapat hadiah ciuman di pipi kanan dan kiri serta sebuah cubitan lembut dipantat.

hah...kata ayah sambil berlalu ke kamar kecil, ngapain lagi klo bukan berwudhu,kan udah masuk waktunya sholat shubuh.


Cermin




Betapa senangnya kancil saat mendapati bayangan dirinya di sebuah genangan air nan jernih. Bayangan itu begitu utuh, persis seperti aslinya. Dan, kancil pun tersenyum sambil terus memandangi bayangan dirinya yang juga tersenyum.

"Ternyata, aku cakep!" ujarnya setelah memastikan kalau bayangan itu memang benar-benar diri kancil sendiri. Dan, kancil pun melompat-lompat kegirangan. Tiap kumpulan hewan yang ia lalui seolah tersenyum memandangi dirinya. Bisikan yang selalu ia yakini pun mengatakan, "Kancil cakep, Ya! Kancil cakep!"

Begitu seterusnya hingga hewan periang ini menemukan genangan air yang lain. Warna air itu agak kusam. Beberapa dahan pohon yang mulai membusuk dalam air seperti memberi warna hijau pekat. Dan bayang-bayang yang dipantulkan genangan itu pun akan menjadi kusam.

"Hei, kenapa wajahku seperti ini?" teriak kancil sesaat setelah memandangi bayangan wajahnya dari permukaan genangan air itu. Ia jadi kian penasaran. Terus ia pandangi genangan itu seolah mencari detil-detil kesalahan. Tapi, bayangan itu tak juga berubah. Ia terlihat kusam, kumuh. Bulu-bulu coklatnya yang bersih tak lagi tampak seperti apa adanya. "Ternyata aku salah! Aku tidak cakep!" keluh kancil sambil beranjak meninggalkan genangan air.

Berjalan agak lunglai, kancil membayangkan sesuatu yang tak nyaman. Sapaan manis hewan-hewan yang ia lalui, terasa agak lain. Tiap sapaan seperti sebuah hinaan: "Kancil jelek! Sok cakep!" Itulah kenapa kancil selalu menunduk ketika berpapasan dengan siapa pun yang ia jumpai. Mulai dari kuda, kerbau, rusa, zebra, dan kambing. Ia merasa begitu rendah dibanding yang lain. Keriangannya pun berganti kesedihan. Pelan tapi pasti, bayang-bayang itu pun menjadi sebuah pengakuan. "Aku memang sok cakep!"

***

Hidup dalam sebuah kebersamaan adalah sama dengan memandangi diri dalam seribu satu cermin sosial. Masing-masing cermin punya sudut pandang sendiri. Bayangan yang ditampilkannya pun sangat bergantung pada mutu cermin. Tentu akan beda antara bayangan cermin jernih dengan yang kusam. Terlebih jika cermin itu sudah retak.

Memahami keanekaragaman cermin ini akan membuat seseorang seperti berjalan pada bentangan tambang di sebuah ketinggian. Ia mesti merawat keseimbangan: antara percaya diri yang berlebihan dengan rendah diri yang kebablasan. Percaya diri yang berlebihan, membuat langkah menjadi tidak hati-hati. Dan rendah diri yang kebablasan, membuat langkah tak pernah memulai.

Andai keseimbangan percaya diri ini yang dipahami kancil, tentu ia tak terlalu bangga dengan bayangan yang terasa begitu membuai. Karena di cermin yang lain, bayangan dirinya menjadi buruk. Sangat buruk. Andai keseimbangan ini yang dipegang kancil, insya Allah, ia tak akan jatuh. (mnuh)

sumber : myquran.org

Senin, 27 Oktober 2008

Membersihkan Telinga



Mengingat kompleksnya organ telinga, jangan sembarangan membersihkannya.

Susunan organ telinga tidak hanya terdiri dari daun telinga, melainkan ada bagian luar dan dalam telinga. Yang harus mendapat perhatian ekstra adalah bagian dalam telinga, karena di sini terdapat organ-organ pendengaran. Jangan sekali-kali Anda membersihkan bagian dalam telinga bayi, karena pendengarannya bisa jadi korbannya.

Ini kiatnya!

Banyak orang tua takut membersihkan telinga bayinya yang baru lahir. Karena, biasanya bayi bergerak-gerak terus, sehingga Anda takut melukai telinganya atau membuat kapas bertangkai (cottonbud) malah terdorong masuk ke telinga bagian dalam.

Tak perlu takut membersihkan telinga bayi. Dengan memperhatikan hal-hal berikut, telinga bayi Anda jadi bersih dan pendengarannya pun tak terganggu.

- Bersihkan telinga bagian luar. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan lubang telinga. Kerangka daun telinga dan sepertiga bagian luar lubang telinga terdiri dari tulang rawan yang elastis, sehingga aman untuk dibersihkan.

- Jangan bersihkan lubang telinga bagian dalam. Bagian ini belum bisa dimasuki kapas bertangkai. Selain itu, kotoran telinga bayi berbeda dengan orang dewasa yang lebih rentan terhadap debu dan cepat kotor.

- Senandungkan lagu-lagu lembut dan ajak bayi “bercakap-cakap”, agar kegiatan membersihkan telinga menyenangkan hatinya.

- Siapkan terlebih dahulu peralatan yang dibutuhkan, seperti baby oil, kapas bertangkai dan kapas bulat.

- Basahi kap as bulat dengan baby oil, angkat kepala bayi, lalu bersihkan bagian depan dan belakang daun telinga dengan hati-hati.

- Bersihkan ceruk-ceruk (lekukan) pada daun telinga dengan kapas bertangkai yang sebelumnya sudah diberi baby oil. Lakukan hal yang sama untuk telingan lainnya.

- Selesai membersihkan, keringkan telinga si kecil dengan handuk atau kain yang lembut.

sumber : ayah-bunda.com